Sunday, November 08, 2009

Lelaki Bukan Suamiku*

Lelaki Bukan Suamiku

Oleh; Ihan Sunrise

Gundah ini membatu setelah bertahun-tahun waktu terlalui begitu saja. Aku yang sering terdiam menjemput gelisah setiap kali menjelang tidur. Bahkan mimpi yang datang sebagai bunga tidur tak ada satupun yang bisa membuatku senang. Hingga pagi kesubuhan membuatku terburu-buru untuk segera beranjak lalu segera ke luar untuk memandang matahari. Lelaki bukan suamiku menanti di sana. Dalam wujud yang hanya aku sendiri yang dapat memaknai.

“Setiap kali kamu merinduiku, ke luarlah dan lihatlah matahari pagi. Aku akan ada di sana untukmu. Hanya matahari pagi, Sayang.” Ucapnya belasan tahun yang lalu. Hangat sentuhan tangannya di pipiku masih kurasai sampai hari ini. Mesra tatapannya masih bergelantung dalam pundak ingatku. Nafasnya yang harum masih kuhirup hingga detik ini.

Mematung aku di bawah langit. Hangat merayap menjalari seluruh tubuhku. Kusapu lembut kehangatan itu pada wajahku yang kian kusut. Desir darah mengalir deras dalam nadiku. Ia hadir hinggap di tubuhku; lelaki bukan suamiku.

“Maka aku akan datang untuk redam gejolakmu.” Lanjutnya ketika itu. Aku mengangguk. Pasrah. Menurut. Sebab hanya itu yang bisa membuatku hidup. Dia; lelaki bukan suamiku.

Muram ini membeku sejak belasan tahun yang lalu. Maka kucairkan ia dengan kehangatan matahari pagi sebagai reinkarnasi wujud dari lelaki bukan suamiku. Aku menyebutnya persetubuhan jiwa.

Usai ritual tersebut aku kembali menjadi diriku, istri bagi suami yang harus kuhormati, kupenuhi haknya, kulayani sepenuh hati. Tanpa keikhlasan yang terus tumbuh layaknya usia kami yang terus menua. Tak pernah ada yang tahu. Sebab gelisah ini hanya milik mata yang enggan terpejam meski malam telah tua. Risau yang hanya milik hati yang telah grafirkan inisial lain. Lelah yang hanya milik ingat yang tak pernah gagal dalam mengenang kisah.

Ritual yang telah belasan tahun kulakukan. Tanpa alpa seharipun. Bahkan pada pagi pertama setelah kami melakukan ijab kabul. Ritual ini nafasku. Maka ketika hujan datang, akulah orang paling gelisah. Sebab aku tak menemui wajah kekasihku di pagi hari. Sebab aku tak bisa mencium aroma tubunya yang hadir dalam burai-burai perca cahaya. Sebab tangannya tak bisa hinggap di tubuhku. Sebab ia tak datang bersamaan dengan hujan.

“Aku hanya menikahkan jiwaku sekali saja dalam hidupku, dan itu telah untukmu” Kataku pada saat itu. Belasan tahun yang lalu.

Ketika itu diam adalah jawaban. Isyarat bagi hati yang sedang luka. Protes tak terucap atas keadaan yang tak sanggup ditentang. Hanya mata yang sanggup leraikan kecewa. Menaruh sedikit rasa percaya atas apa yang ditasydidkan hati. Selebihnya adalah gemuruh yang lelehkan bening di kelopak mata.

“Kebahagiaan itu di sini.” Aku menaruh tangannya tepat di dadaku, agar ia bisa merasai bahwa aku berkata benar. Jantung ini berdetak kencang mengiyakan. “Selama kamu ada di sini aku akan selalu bahagia.” Kataku meyakinkan diri.

Maka, ketika pagi ini aku bangun terlambat adalah kekhilafan terbesar dalam hidupku. Matahari telah menerangi setiap celah di kamar tidurku. Aku memicingkan mata. Beranjak bangkit menuju jendela. Kusibak horden berwarna coklat muda berenda penutup jendela kamar tidur kami. Aku dan suamiku. Matahari menerobos liar menyinari tubuhku yang setengah terbuka. Kutarik tirai dan segera kututupi tubuhku.

Mataku menjeling pada sesosok laki-laki yang masih meringkuk di tempat tidur. Dialah suami kehidupan nyataku. Air mataku meleleh. Ada penyesalan yang teramat sangat dalam diri ini. Nyeri yang bertubi-tubi. Jika saja, ah... Seandainya aku tak menuruti permintaan lelaki suamiku usai subuh tadi tentu semua ini tidak akan terjadi. Matahari tentu tidak akan menyelinap masuk untuk menghukumku.

“Jangan pernah biarkan aku menunggu. Sebab aku akan selalu datang tepat waktu.” Ucap lelaki bukan suamiku belasan tahun yang lalu. Dengan ucapan yang ditegar-tegarkan. Dengan suara yang dinyaring-nyaringkan. Aku mengangguk kala itu.

Maka gundah ini tak lagi sekedar batu biasa. Tetapi ia telah menjadi karang yang begitu kokohnya. Aku telah melanggar janjiku. Dan aku semakin membenci lelaki suamiku yang telah membuatku kehilangan berkali-kali. Dan lagi aku tak kuasa menolaknya pada subuh-subuh berikutnya. Pertemuan yang terus cokolkan benih dalam rahimku.

Dan aku, semakin jauh dengan matahariku. Lama aku tak merasai hangatnya yang menjalari tubuhku, lama aku tak merasai sentuhannya yang mengusik adrenalinku. Lama aku tak merasai harum mulutnya yang hadir dalam burai-burai perca cahaya. Semakin lama dan lama. Hingga akhirnya ia tak datang lagi. Aku kehilangan cintaku.

Karena musim penghujan telah menelan hingga sepanjang tahun ini. Akulah orang paling gelisah itu. Karena setiap malam adalah surga bagi kebencianku. Hujan yang sematkan rintik di mataku. Dan salju yang semakin membeku dalam jiwaku.

Luka yang berkeping-keping. Hukuman yang tak terampunkan. Ke mana aku mencari reinkarnasinya yang lain. Tak mungkin dalam hujan. Sebab ia tak mungkin datang pada waktu yang bersamaan.

Dan entah sejak kapan matahari tak pernah muncul lagi dalam hidupku. Tulang belulangku mulai keropos. Aku tak henti memaki diri. Sesal. Kesal. Aku ingin meraung. Lidah ini mulai kehilangan banyak kata. Sepi suara. Ingatan ini mulai terkelupas, bahkan untuk mengingat wajah lelaki suamiku. Mata ini mulai berkabut. Hingga akhirnya kudapati matahariku dalam wujud yang lain. Api yang menyala merah kebiru-biruan. Membumbung tinggi menjerla ke langit. Terang. Hangat. Matahariku telah kembali. Maka kujejakkan kaki di atas baranya yang merah. Aku tidur memeluk matahari. Selamanya. (Ihan)

00:52

22-10-09


* cerpen ini sudah dimuat di Koran Harian Aceh, edisi Minggu, 08 November 2009

Saturday, November 07, 2009

Kabut di bulan November

Suatu malam diawal bulan November. Pada tahun ke delapan usia pernikahan kita. Aku ingin hujan turun malam itu. Lalu mengirimkan kabut-kabut kepadaku. Dan hujan benar-benar turun kala itu, tapi di matakuku. Dan kabut benar-benar ada, tapi di hatiku.


Aku terseok pada kebingungan yang menggulana. Nostalgia lama yang kembali melilit setengah jiwa yang telah lama hampa. Aku terdepak dari keputusan akut. Di antara rintik hujan, di antara asap kabut. Di mataku. Di hatiku. Di antara kehadirannya.


Aku tergeletak dalam palung labirin keruwetan keinginan. Rindu yang membabi buta, dan kebersalahan yang membentang dalam ingatan. Setengah hatiku tercabik, dan setengah yang lainnya bertumbuh. Sebagai syukur atas anugerah yang telah Tuhan berikan. Kepadaku; kamu dan anak-anak kita.


Aku gugu dalam diam. Pada malam diawal bulan November tahun ini. Pada tahun ke delapan usia pernikahan kita. Aku ingin hujan turun malam itu. Lalu mengirimkan kabut-kabut. Dan hujan benar-benar turun, untuk mensucikan ingatan dari kejelagaan masa lalu. Dan kabut benar-benar ada, untuk membatasi jarak pandang dengan masa pada waktu itu.


Note;

Kepada seseorang; aku tak berharap persamaan kisah. Bilapun sama, mungkin kita harus banyak berdoa; agar hujan dan kabut lebih banyak turun dalam kehidupan kita.



08:31 pm

07 Nov 09 on Sat

Wednesday, November 04, 2009

Aku masih mencintaimu

Lama aku tak mencandaimu, mungkin waktu selama ini lebih banyak milik hening daripada milik kita. Ritme yang tidak teratur sering kali pertemukan kita pada persimpangan yang tidak searah. Dan aku berusaha mengerti. Sebab waktu mungkin memang sedang menguji kita. Aku dan kamu. Kita berhenti untuk kekalahan, atau kita bertahan untuk kemenangan. Dan aku lebih menyukai yang ke dua. Sebab kau selalu ajarkan itu padaku melalui cintamu.


Siang ini, kau membuatku tercenung, diam dalam kebermainan rasa yang menyelubungi benak. Menggoda diri ini untuk terus bertanya pada diri. Mungkinkah sudah ada yang berkurang setelah faselita ini? Apa benar semuanya mulai terlihat tak sempurna? Ataukah memang apa yang ada di hati ini bukan lagi seperti faselita yang lalu.


Tapi sejak semalam aku mengingatmu, semalamnya lagi, semalamnya lagi, aku sering memimpikanmu, aku sering kesal karena setiap hari tidak bisa bilang rindu padamu. Aku sebal karena harus menunggu lama untuk bisa membelai wajahmu. Aku menemukan jawaban; Aku masih mencintaimu persis seperti aku mencincaimu lima tahun yang lalu!

Thursday, October 29, 2009

Sudah

Warna bibirmu masih melekat di tubuhku, sayang

Tuesday, October 27, 2009

Kampung Surga !

Sebuah Memoar; Kampung Surga !

Oleh; Ihan Sunrise


Kampung ini kampung surga. Namun tak pernah kulisankan, sebab surga dalam benak setiap orang adalah perbedaan. Sedang bagiku, surga adalah tempat di mana aku bisa tumbuh dan hidup dengan nyaman, tanpa ketakutan, tanpa tangisan, tanpa air mata. Yang selalu memberi tenang dalam damai. Yang selalu tawarkan tawa.


Tempat di mana setiap bukitnya dapat ditunggangi layaknya kuda Sumbawa yang perkasa. Yang membentangkan permadani rumput hijau. Tempat untuk menyaksikan terbenamnya matahari yang merah. Ketika langit mengulumnya pelan-pelan, dan meninggalkan cupangannya sepetak-sepetak di atas tanah.


Ternak-ternak yang bahagia, karena setiap hari digembalakan oleh anak-anak dari kampung surga. Yang tak pernah memancangkan tali-talinya di patingan permanen.


Tempat di mana setiap lembahnya muncul mata air untuk diminum, dipakai mandi, mencuci atau untuk cebok sekalipun. Untuk berkubangnya kerbau dan babi hutan. Bahkan tempat bagi berkembang biaknya lintah yang menjijikkan.


Surga adalah tanah yang subur bagi segala jenis pohon, bahkan dedaunan tidak bernama yang bisa dimakan untuk lalapanpun dapat tumbuh di sana. Tempat batang-batang pisang beranak pinak. Tempat bagi perdu-perdu tebu yang gemuk dan segar. Dan padang ilalang.


Tanah yang banyak mempunyai jalan setapak tanpa beraspal. Ketika musim kemarau tanahnya kering berdebu dan ketika musim hujan menjadi becek. Dan kami terbiasa hidup tanpa keluhan. Itulah surga, kesederhanaan yang bisa melapangkan jiwa penghuninya. Tempat di mana burung bisa bertelur dan mengeramnya di mana saja. Di pinggir jalan, di semak-semak belakang rumah, di dahan-dahan pohon pinang. Surga memberikan ketenangan untuk tidak mengusik. Hingga burung-burung itu menetas, dan ramaikan kampung surga kami.


Kampung ini kampung surga. Tapi tak pernah kulisankan. Sebab surga hanya untuk dinikmati, bukan untuk diceritakan. Tetapi ia terus lekat dalam otakku, bahkan sejak aku belum mengerti apa itu surga. Bahkan ketika surga itu pelan-pelan tercabik aku tetap menamainya surga, karena surga itu sebenarnya ada dalam pikiranku.


Di kampung surga ini dulu aku belajar mengaji alif ba ta pada guru ngaji yang juga nenekku, di sekolahnya yang pernah dibakar aku belajar pelajaran Pendidikan Moral Pancasila dan Bahasa Indonesia. Tetapi rupanya gara-gara aku bisa bahasa Indonesialah ada orang yang tidak kukenal pernah memarahiku. Kata mereka itu bukan bahasa kami. Orang-orang itu pastilah tidak tahu pelajaran Pendidikan Moral Pancasila makanya mereka kurang bermoral.


Seingatku, kampung surga tak pernah melarang kami untuk berbahasa apa saja. Jika bisa mungkin kami juga akan diijinkan berbicara dalam bahasa hewan dan tumbuhan. Seperti pada masa jaman Nabi Sulaiman. Bila begitu, alangkah mudahnya menggiring sapi-sapi milik kami setiap sorenya pulang menggembala dari bukit surga. Kemudian aku mengerti, itulah awal prahara bagi kampung surga.


Pun di kampung surga ini aku pernah belajar mengaji mengenai rukun iman dan rukun islam. Tapi keimanan dan keislamankupun sepertinya biasa saja. Alhamdulillah aku masih bisa mengaji, kalau tidak aku akan sangat malu pernah hidup di kampung surga.


Kampung surga kami mengajarkan kemandirian, ciri khas anak-anak kampung. Kemana-mana selalu bersama-sama teman sebaya, menggembala (aku lebih suka menyebutnya ngangon), mencari kayu bakar, mandi, mencuci, pergi sekolah, mengaji, main petak umpet, main pasaran, main rumah-rumahan, main perang-perangan.


Kampung ini tak pernah mengajarkan perkelahian, tetapi mengapa darah akhirnya bisa mencucur dari tubuhnya yang terus dewasa? Tapi yang pasti ini bukan keinginan kami meski kami sering main perang-perangan, yang senjatanya dari pelepah pisang ataupun batang rumbia.


Kampung ini ajarkan kami untuk hidup dengan bekerja keras, membantu orang tua apa saja yang kami bisa, entah memetik coklat di kebun, atau menanak nasi di rumah, mungkin juga membantu mencuci sepatu sekolah kami sendiri.


Rumah-rumah kami adalah pondok-pondok yang dibangunkan Allah untuk kami di atas tanah surga. Tanah yang ditumbuhi pohon-pohon kelapa, pinang, cokelat, dan rerumputan. Rumah-rumah yang diterangi matahari ketika siang dan disinari bintang dan rembulan ketika malam. Ketika lebaran, kampung surga kami ramai diterangi suluh-suluh bambu yang benderang. Dan juga lilin-lilin yang kami pasang di dalam tempurung.


Kampung ini benar-benar kampung surga. Kampung yang telah lekat dalam ingatan, sebab puing-puing kehidupan kami masih berserakan di sana. Di bukit-bukitnya yang anggun, di lembahnya yang menjuntai-juntai, di lorong-lorong jalannya yang mempesona, di sarang-sarang burungnya, di leguhan binatang malam.


Kampung surga adalah kampung yang tidak bisa dilupakan. Meski telah satu dasawarsa surga itu telah berpindah tempat. Bukit-bukitnya menjadi setengah belantara kini. Lembah-lembahnya telah menjadi tempat babi hutan berkembang biak. Mata-mata airnya telah sumbat. Parit-paritnya telah dangkal. Rumput-rumputnya mongering. Sebagian pohon-pohon kelapa kami berganti, menjadi karet dan kelapa sawit. Lalu gajah datang memamah hingga ke akar tunggalnya yang terbenam dalam tanah.


Kampung surga kami kampung ingatan. Karena disanalah aku belajar tentang rasa peduli dan kehilangan. Kampung surga adalah kampung yang selalu hadirkan rindu berkepanjangan. Untuk kembali mencumbui lekuk bukitnya, atau sekedar mencandai keluguannya. Atau untuk merasakan kehangatannya tatkala matahari setinggi dhuha.


Kampung surga adalah kampung kenangan. Tempat tersimpannya bait-bait dialog ketika masa sekolah dan mengaji. Rupa-rupa yang masih menggantung di setiap dinding kampung. Tawa yang masih menggelegar setiap detiknya, riang, sorai, riuh, tanpa beban. Dan cengkerama yang tak pernah usai dalam ingatan.


Aku mencari kampung surga ke mana-mana, tapi tak ada yang sama dengan kampung surga milikku. Kampung yang selalu berikan damai dalam tenang, bahkan dengung nyamuk dan leguhan jangkrik di malam haripun mampu menjelma menjadi kidung yang melenakan. Desau daun, lambaian nyiur dan desis angin adalah teater alam yang tak pernah putus.


Apakabarmu Padang Peutua Ali?


00:00 am

27 okto 2009



Saturday, October 24, 2009

Aku Rindu

Aku ingin bersemedi dalam hatimu. Karena rupanya di sana bermukin segala macam telaga. Bening yang suguhkan damai bagi hati gundahku. Gemericik yang senantiasa pesonakan keteguhan. Untuk selalu berdetik meski sarat gelombang.


Aku ingin tenggelam dalam jiwamu. Jiwa seluas dunia tanpa dinding berkabut. Yang selalu pancarkan sinar harapan meski aku tahu sering kali mendung hinggap di sana. Kekhawatiran dan kecemasan bertubi, layaknya batu yang bertindih-tindih di atas punggung bumi. Tapi kau terus bertahan. Patahkan semua itu dengan senyum dari layar pinisi kehidupan kita.


Aku ingin tidur di pangkuanmu. Meski hanya dalam hayal kupenuhi semua keinginan. Pangkuan yang menenangkan. Sentuhan pada ubun-ubun yang hilangkan gemuruh.

Aku rindu!


Rindu untuk bersemedi di hatimu. Rindu untuk tenggelam dalam jiwamu. Rindu untuk tidur di pangkuanmu.


Aku rindu memeluk ibu!

Wednesday, October 21, 2009

Biarkan Aku Mencintaimu dengan Caraku

“Boleh aku menciummu? Aku kangen!”

“Silahkan”

“Muach!”

“Cukup”

“Aku masih rindu, dan ingin menciummu sekali lagi”

Dan aku menciummu. Sekali lagi, maka tertebuslah rasa rindu yang telah tertahan seharian ini.

Malam yang berlainan. Kau kembali hadir, dalam ruang diri yang selalu basah. Membuat hatiku seketika bergetar hebat dan otakku berfikir cepat. Meraih sejuk dari sekitar untuk segera tenangkan jiwa yang bergemuruh. Sungguh! Aku rindu. Aku tak bohong. Maka kuminta untuk segera menciumimu.

Bertukarlah cerita seharian ini, aku dengan ceritaku yang semalam, dan kau dengan kisah lemburmu yang menjelang tengah malam. Selalu ada kenikmatan dari pergumulan cerita itu. Seolah seperti bermandikan kembang tujuh rupa, selalu ada kesegaran, wewangian yang menghampiri dan gelora yang memanjangkan asa.

Menjumput-jumput dalam labirin benak, memutar-mutar liang ingat, biarkan aku mencintaimu dengan caraku.

---

Mungkin mengingatmu adalah bara. Tapi dengan bara itu aku hidup. Seperti kepulan asap batubara yang mampu lajukan gerbong kereta melalui lajur-lajur rel yang tajam. Mungkin mengingatmu adalah panas dari matahari yang membakar. Tetapi dengan panas itu mampu munculkan cahaya bagi kehidupan jagat. Mungkin mengingatmu adalah bandang berlumpur. Tapi dengan Lumpur itu mampu menyamak seluruh najis yang bertaburan. Mungkin mengingatmu adalah dosa. Tetapi dengan itupula aku teringat untuk menyeimbangkan hidup ini. (ihan)




20:35 pm

21/10/09

Saturday, October 17, 2009

Rumah Yang Tak Lagi Kesepian

Desah mengiring mentari menuju ambang malam, sebentar lagi kalam-kalam suci akan mengepak-ngepak hingga langit ke tujuh. Menyemerbak hantarkan pujian pada sang Rabb pemilik semesta.


Seperti biasa aku menaiki anak tangga sebelum akhirnya sampai pada pintu kamar yang telah kutempati sejak bertahun-tahun yang lalu. Kali ini ada yang berbeda dari hari-hari kemarin, kemarinnya lagi bahkan kemarinnya lagi, bahkan sejak bertahun-tahun yang lalu.


Terang menyambut begitu pintu utama kubuka, rupanya ruang tamu yang dulunya gelap dan telah alih fungsi menjadi motorcycle port kini telah dipasangi lampu. Entah kapan, karena malam kemarin ruangan ini masih kudapati gelap gulita.


Dua kamar kulalui seperti biasa, namun setumpuk benda aneh yang terletak dipinggir sumur mengalihkan perhatianku. Benda yang dulu pernah ada di rumah ini, namun kejadian besar lima tahun yang lalu membuatnya menjadi terkebiri dan tak lagi berfungsi. Iapun telah berganti wujud menjadi besi tua berkarat yang tak lagi dibutuhkan. Benda itu masih tetap bernama pompa air namun aku tak tahu merknya apa, masih berkilat dan baru. ”Tadi sore” jawab teman yang sedang di kamar mandi saat kutanya kapan benda itu dipasang.


Kaki ini melangkah, memijaki tubuh tangga yang begitu pasrah tanpa penolakan. Ada yang berubah dari tatanan rumah ini. Kardus-kardus besar masih berserakan, berisikan perkakas yang belum disusun. Memenuhi sebagian ruangan yang tidak terlalu luas, rak piring, kompor.


Ah...Tuhan mengijabah doa rumah ini sepertinya, yang telah lama kesepian dan merindukan decah kaki yang berlainan. Ia rindukan keriuhan seperti dulu, rindukan asap-asap dari tanakan nasi dan tumisan sayur. Rindukan belaian banyak tangan pada dindingnya yang mulai kusam dan tua. Rumah yang ingin berikan kehangatan pada tubuh-tubuh yang kedinginan dipeluk tangan pagi. Rumah yang rindukan sapuan dari tangan yang berbeda pada setiap lantainya yang terpijak.

Rumah yang telah lama panjatkan doa, ucapkan selamat datang pada dua gadis itu. Biarlah aku yang menepi untuk tak lagi merasai kehangatanmu pada malam-malam yang dingin. Aku mengikhlaskanmu untuk dirawat olehnya, sebab aku tahu, aku tak bisa menjadi sempurna untukmu. Biarlah ia yang selalu membuatmu tersenyum karena ada yang menemani sepanjang hari. (Ihan)

Thursday, October 15, 2009

Ajarkan Aku Jadi Pembunuh

“I will kill him if he leave me, couse he take it my something special in my life. I really love him, i can’t life wihout him”

aku tertegun, mencoba menghadirkan sosok orang yang mengirimkan pesan tersebut, perempuan muda yang tak pernah kukenali seperti apa rupanya, yang kutahu suaranya begitu nyaring dan lembut, apalagi ketika ia sedang menceritakan siksa batinnya.

Kucoba resapi galaunya dengan jiwaku yang tak sepenuhnya berhasil, sebab pikiran ini masih harus terbagi untuk beberapa butir pekerjaan yang belum selesai. Tak ada keputusan dari pemikiran disela ketergesaan ini, antara menyelesaikan pekerjaan dan keputusan untuk memberikannya sepatah dua patah kata yang mungkin bisa membuatnya tenang.

Aku mulai mengantuk, dan tubuhku mulai terasa berat ditambah dengan perut yang lapar belum terisi makanan sejak lepas siang tadi. Penunjuk waktu tepat berada di angka 10.30 pm.

Kukemas ranselku yang masih berat begitu pekerjaanku selesai, aku menoleh ke luar, langit gelap dan jalanan terasa begitu lengang. Bulanpun entah ke mana, dan bintang sepertinya enggan bertandang.

Sesaat setelah itu aku melesat di jalan raya. Masih dalam sepi dan lengang. Kembali ingatanku menjalang, pada beberapa kalimat miris tadi. Terbayang wajah pemiliknya yang gusar dan kalut, mungkin juga rasa sakit hati dan kecewa yang berperbankan kesedihan dan rasa takut.

Ah....

Aku berhenti di depan sebuah gerobak penjual roti bakar di tepi jalan, kupesan satu dan mencari kursi plastik untuk menunggu. Masih ada sisa waktu untuk berfikir sebelum pesananku selesai. Berfikir untuk segera pulang dan menikmati roti bakar berisikan selai nanas dan strawberry, sekaligus berfikir kepada seseorang yang mengirimkan pesan tadi.

Benarkah ia akan membunuhnya? Tapi, apakah itu tidak berlawanan dengan kata hatinya? Bahwa ia sangat mencintai seseorang itu. Lalu mengapa ia ingin membunuhnya? Bukankah cinta –dari sumber apapun- selalu mengatakan bahwa sesuatu yang begitu sakral dan berharga, tumbuh atas dasar kerelaan dan sikap mau menerima tanpa pengecualian.

Lalu mengapa akhirnya timbul kebencian dan rasa sakit yang tak terperi, bukankah seharusnya mengikhlaskan saja jika cinta tidak lagi sesuai dengan keadaan yang diinginkan oleh pikiran, hati, mungkin juga nafsu.

Dua menit kurang dari pukul sebelas aku sampai ke rumah. Pikiran tentang sosok perempuan itu masih mengiang dalam ingatan.

Jika saja aku mengenalnya, jika saja ia ada di hadapanku sekarang, jika saja kami bisa berdialog saat ini. Aku ingin sekali bertanya padanya, ingin belajar, ingin berdiskusi, aku ingin diajarkan cara membunuh yang tulus.

Cara membunuh tanpa paksaan, tanpa kebencian, tanpa sakit hati apalagi kecewa. Aku ingin diajari cara membunuh perasaan yang kadung bercokol dalam diri ini. Yang tak lekang meski saban hari aku menggerusnya, yang tak pernah usang meski faselita demi faselita terlewati.

Perempuan yang entah! Ajari aku cara membunuh ingatan agar aku bisa meninggalkannya dengan sempurna., maka akan kuajari kau cara menyederhanakan hidup agar kau bisa mencintai dengan keikhlasan. (Ihan)

00:23 am

15 okto 09

Monday, October 12, 2009

Tak Ada Yang Beranjak

Menjelang magrib di sebuah warung kopi, di tepi jalan, di depan sebuah Masjid bermenarakan kupiah. Lalu lalang jalanan yang bising, menyuratkan bahwa peredaran waktu seperti tak berpengaruh. Masjid besar yang megah, tempat dikumandangkan kalam-kalam suci yang syahdu, hanya untuk dilalui, dan seolah-olah seperti membisiki; biarkan saja orang-orang suci mempasrahkan dirinya pada sang Illahi di sana.

Pun pintu warung yang dibiarkan tetap menganga, ditepuki denging nyamuk yang menyorak sorai, barangkali mereka sedang mentertawakan kebodohan manusia, bahwa rejeki adalah milik-Nya, tetapi mengapa takut untuk mengistirahatkan aktivitas barang sejenak sekedar untuk menghormati agama yang tercantum dalam kartu tanda pengenal.

Koran yang enggan ditinggal oleh pembacanya, sudah lusuh masai karena seharian berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Mungkinkah bapak itu yang terakhir menyentuhnya hari ini? Bahunya bersandarkan pada punggung kursi plastik yang mengkilat. tak ada tanda-tanda ia akan beranjak, kakinya bergoyang silih berganti dengan ritme yang teratur.

Kalam-kalam suci yang terus mengumandang, menundukkan alam, memberi kesenyapan, udara yang tak lagi berdesau, langit yang tak lagi memerah, hari yang akan berubah warna. Manusia nyaris menyamati mata Kelelawar, berjalan dalam gelap, hidup dalam gelap, untuk memilih kegelapan.

Hingga Azan melesat menembus cakrawala, tak mampu kalahkan gelombang yang bertebaran di badan jalan. pekerja yang masih sibuk dengan gelas kopinya, bapak setengah baya yang masih setia dengan koran lusuhnya, dan aku yang masih memaku di sini. Tak ada yang beranjak!