Sesungguhnya di jendela hatiku memiliki penutup serupa kain yang terjurai menyentuh tanah, ketika angin bertiup semilir kain itu bergoyang perlahan mengikuti ritme yang indah.
Di balik kain yang menjuntai indah itulah engkau tersembunyi, dari katup-katup mata di luar sana yang sering menyimpan rasa penasarannya. Mereka bertanya-tanya akan sosokmu, bagaimana rupamu, bagaimana suaramu, dan apa makna dari balik inisial namamu.
Kukatakan, bahwa rahasia tentangmu hanya setipis kain yang menjuntai itu, bahwa engkau adalah sosok yang tak terlalu asing bagi mereka, suaramu sering hinggap di pucuk-pucuk pohon, dan gelagatmu sering muncul bersama angin yang bertiup setelah hujan.Hanya saja, mencintaimu dengan cara itu mampu memberikan nikmat lebih, seperti nikmat para pecinta batu dalam mengasah batu-batu temuan mereka hingga membentuk suatu sketsa atau warna.
Yah, dari balik kain penutup itu biarkan mereka menebak-nebak tentang engkau.
12 Maret 2012 pukul 18:56
Senarai Cinta
Bacalah tanpa harus menerima begitu saja, Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong, Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik, Dan, jika anda memiliki pendapat, Kuasai dunia dengan kata-kata.
Friday, March 16, 2012
Tirai Hati
Puisi dan Kopi
Memulai maret dengan memimpikanmu, seperti mengawali dan mengakhiri februari dengan bertemu engkau.
gerak-gerak itu semakin mistis dalam ritmik imajinasi. meski kita telah mampu menterjemahkannya dengan sempurna.
hasrat, gejolak, lubrikasi rindu, telah bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. meski berkali-kali pula mengganti wajahnya.
kadang ia hadir sebagai perempuan penggila kopi yang parah, kopi selalu menjadi alasan tepat untuk bisa menyesap wangi tubuhmu yang nikmat. maka kubiarkan saja mataku merangkak di tubuhmu dengan ke dua sayap mengepak.
kadang pula ia hadir sebagai lelaki penikmat puisi. maka puisi seperti tak pernah kehabisan angle untuk dibicarakan, agar ia punya cara untuk menahannya.
semakin banyak muncul judul puisi
semakin liar pula ia memainkan harmoninya.
puisi dan kopi bercinta dalam hening, seperti aku yang luruh dalam tasbih matamu, jangan berisik, agar tak seorang pun mampu mendengar bahwa kita sedang menyelesaikan sesuatu.
3 Maret 2012 pukul 21:50
gerak-gerak itu semakin mistis dalam ritmik imajinasi. meski kita telah mampu menterjemahkannya dengan sempurna.
hasrat, gejolak, lubrikasi rindu, telah bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. meski berkali-kali pula mengganti wajahnya.
kadang ia hadir sebagai perempuan penggila kopi yang parah, kopi selalu menjadi alasan tepat untuk bisa menyesap wangi tubuhmu yang nikmat. maka kubiarkan saja mataku merangkak di tubuhmu dengan ke dua sayap mengepak.
kadang pula ia hadir sebagai lelaki penikmat puisi. maka puisi seperti tak pernah kehabisan angle untuk dibicarakan, agar ia punya cara untuk menahannya.
semakin banyak muncul judul puisi
semakin liar pula ia memainkan harmoninya.
puisi dan kopi bercinta dalam hening, seperti aku yang luruh dalam tasbih matamu, jangan berisik, agar tak seorang pun mampu mendengar bahwa kita sedang menyelesaikan sesuatu.
3 Maret 2012 pukul 21:50
Thursday, February 09, 2012
Workhsop Menulis Tiga Hati
Dua puluhan anak muda dari berbagai komunitas di Banda Aceh mengikuti workshop menulis di Kafe A Plus, Batoh, Banda Aceh, Rabu, 1 februari 2012.
Pendiri TigaHati Community, Ihan Sunrise mengatakan mayoritas peserta berasal dari berbagai komunitas seperti Komunitas Pecinta Linux Indonesia (KPLI) Aceh, Komunitas Kamera Lubang Jarum (KLJ), Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh, Convis Aceh, dan juga dari rekan-rekan jurnalis muda serta masyarakat umum.
Dalam workhsop berdurasi tiga jam tersebut TigaHati Community menghadirkan Salma Indria Rahman sebagai pembicara. Salma Indria Rahman adalah anggota Aliansi Jurnalis Independen (Aji) Jakarta dan pendiri RumahPohon Activity Jakarta.
Dengan mengambil tema "Menuai Profit Dengan Menulis" Salma mengarahkan para peserta agar membuat tulisan yang memiliki informasi cukup dengan selalu memunculkan ide-ide atau hal-hal baru pada setiap tulisan yang belum pernah disajikan oleh penulis lainnya. "Dengan cara seperti ini tulisan akan memiliki nilai jual sehingga layak untuk dipublikasikan di media massa." demikian tegas Salma.
Salma juga menegaskan bahwa aktivitas menulis adalah pekerjaan paling mudah yang tidak terikat dengan waktu, dapat dilakukan di mana saja dan memiliki orientasi profit yang menjajikan.
Muhammad Hamzah Hasbalah, salah seorang peserta yang juga jurnalis di Aceh Kita mengatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat untuk menambah wawasan tentang cara dan teknik-teknik menulis. "Apalagi dengan praktik dan koreksi langsung dari pembicara, membuat kita langsung tahu di mana kekurangan dan kelebihan tulisan kita." katanya.
TigaHati Community adalah komunitas yang digagas oleh tiga sahabat Ihan, John dan Martha, sebagai wadah untuk berkreativitas.
Pendiri TigaHati Community, Ihan Sunrise mengatakan mayoritas peserta berasal dari berbagai komunitas seperti Komunitas Pecinta Linux Indonesia (KPLI) Aceh, Komunitas Kamera Lubang Jarum (KLJ), Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh, Convis Aceh, dan juga dari rekan-rekan jurnalis muda serta masyarakat umum.
Dalam workhsop berdurasi tiga jam tersebut TigaHati Community menghadirkan Salma Indria Rahman sebagai pembicara. Salma Indria Rahman adalah anggota Aliansi Jurnalis Independen (Aji) Jakarta dan pendiri RumahPohon Activity Jakarta.
Dengan mengambil tema "Menuai Profit Dengan Menulis" Salma mengarahkan para peserta agar membuat tulisan yang memiliki informasi cukup dengan selalu memunculkan ide-ide atau hal-hal baru pada setiap tulisan yang belum pernah disajikan oleh penulis lainnya. "Dengan cara seperti ini tulisan akan memiliki nilai jual sehingga layak untuk dipublikasikan di media massa." demikian tegas Salma.
Salma juga menegaskan bahwa aktivitas menulis adalah pekerjaan paling mudah yang tidak terikat dengan waktu, dapat dilakukan di mana saja dan memiliki orientasi profit yang menjajikan.
Muhammad Hamzah Hasbalah, salah seorang peserta yang juga jurnalis di Aceh Kita mengatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat untuk menambah wawasan tentang cara dan teknik-teknik menulis. "Apalagi dengan praktik dan koreksi langsung dari pembicara, membuat kita langsung tahu di mana kekurangan dan kelebihan tulisan kita." katanya.
TigaHati Community adalah komunitas yang digagas oleh tiga sahabat Ihan, John dan Martha, sebagai wadah untuk berkreativitas.
Persembunyian Takdir
“Bersiap-siaplah.” Katamu
Ketika itu Aku baru saja selesai menyisir rambutku, lalu menguncirnya dengan pengikat rambut warna merah hati. Kuletakkan handphoneku di kasur, kemudian menyelesaikan riasan wajah berupa polesan celak di mataku. Aku mematung sebentar di depan cermin, sekedar memastikan bahwa bedakku rata, dan lipstick di bibirku tidak ada yang keluar garis. Saat itu handphoneku kembali berbunyi. “waktu kita terbatas.” Katamu.
Aku meleguh. Menarik napas panjang sebagai bentuk keberatan dari ketergesa-gesaan yang kau tawarkan. Tapi itu hanyalah luapan emosi sesaat manakala aku harus menempuh jarak yang tidak sebentar untuk bisa segera sampai di hadapanmu. Dan memang, waktu selalu terasa singkat bagi kita; aku dan engkau.
Sehari Setelah Purnama
Selalu ada cerita yang membuat kisah kita tak pernah selesai. Sehari setelah purnama, matahari begitu lantang dan mengirimkan denyut di atas ubun-ubun. Melewati lorong-lorong sembunyi sehari setelah purnama, di pucak siang yang begitu gagah, memiliki nikmat berbeda daripada menyusurinya ketika langit baru saja basah, dan langit mulai temaram.
Debarannya terasa lebih kencang, sebab lorong-lorong yang kulalui sepi dari lalu lalang manusia, kesepian yang membuat mereka menaruh perhatian lebih kepada siapa saja yang melintasi mereka. Gemericik air terdengar lebih jelas, sebab mereka mendominasi suasana ketimbang beberapa manusia yang memilih untuk diam, berdialog dengan diri sendiri atau sekedar membolak-balikkan Koran, mengamati perkembangan politik terkini.
Dan suara ketukan sepatuku di lantai terasa semakin nyaring saja, seiring dengan berakhirnya lorong sembunyi, hingga akhirnya sampai di muara yang membawaku menuju dunia lain. Dunia di mana alasnya terbuat dari karpet tebal yang mewah dan lembut. Yang mampu menyirap suara gesekan sepatuku sehingga mampu meredam debar yang semakin kencang di dalam hati. Dunia yang jauh lebih sepi namun memberikan nuansa temaram yang nyaman.
Dunia yang ketika kulihat sosokmu, bagai memasuki pusaran air di samudera biru yang liar, segera aku tersedot ke dalamnya, dan ketika aku menyadari, aku telah terdampar di pelukanmu yang datar. Wangi kulitmu menyelusup ke rongga hidungku, bagai aroma lotus yang mampu memejamkan mata, sekaligus mengendurkan syaraf-syaraf.
Ya, sehari setelah purnama kali ini kita memiliki waktu lebih untuk sekedar bercakap-cakap. Memang masih bagai ombak yang terus dikejar gulungan berikutnya, kita pun terpaksa menyelingi antara menuntaskan rindu dengan pembicaraan politik mengenai kandidat gubernur. Simulasi pencoblosan menjadi semacam pertautan jari, jemariku yang tampak kecil bergelung di jari-jarimu yang besar dan agak kasar.
Kita bagai berlari dikejar dering-dering telepon penting dari orang-orang seberang, bibir kita menarik segaris senyum, sebagai bentuk persetujuan bahwa kita merasa terganggu. Tetapi kondisi itu hanya masalah peran yang telah biasa kita tuntaskan.
Kita pernah berlari sambil menautkan bibir, kita pernah berjalan sambil bersulang, masing-masing membawa cawan rindu berwarna ungu. Kita pernah melakukan semuanya, menyudahi ketergesaan dengan tenang, berjalan dan bersikap santai dengan hati yang dilanda amuk gemuruh. Apalagi hanya melewatkan sedetik waktu untuk menjawab telepon, lalu kita memiliki waktu yang panjang untuk menyelesaikan gelisah.
Ini dunia yang aku dapat melihat air bergemericik biru di bawahnya, dengan hanya menyingkap sedikit tabirnya aku mampu melihat matahari dengan utuh, berwarna jingga dan beranjak untuk lebih condong. Dan selebihnya adalah warnamu yang menyelubungi seluruh inderaku.
Rabu, 8 februari 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)
